5 Mitos tentang PC yang Sudah Basi

5 Mitos tentang PC yang Sudah Basi

Pengguna komputer mungkin pernah mendengar mengenai anggapan yang berkaitan dengan pemakaian perangkat tersebut sehari-harinya. Yang mana belum tentu betul sehingga bisa di kategorikan sudah basi atau sekedar mitos belaka.

Ada juga yang setengah-setengah alias ada benarnya mengenai keadaan tertentu, tetapi salah dalam kebanyakan situasi sehinggga tergantung pada konteksnya.

Baca juga: Mitos dan Fakta Tentang Masa Depan AI

Berikut di bawah ini sejumlah contoh yang sering di dengar, mulai dari kecepatan prosesor, atau anjuran agar defrag rutin, hingga overclocking. Sebagaimananya yang di himpaun oleh studykun mengenai 5 Mitos tentang PC yang Sudah Basi.

1. Semakin tinggi clock prosesor, semakun ngebutnya kecepatannya

Dulu, hingga era Pentium IV di mana pada saat itu suatu prosesor komputer hanya memiliki satu intu CPU saja (singgel core). Nah frekuensi kerja pada clockspeed berbanding lurus dengan kecepatan suatu prosesornya. Semakin tinggi angkanya suatu prosesor makan akan makin ngevut kinerjanya suatu komputer.

Namun aggapan yang satu ini sudah termasuk kadaluarsa semenjak prosesor-prosesor suatu PC mulai menerapkan lebih dari satu core. Sebab, beban pada kinerja prosesor kini dibagi-bagi antara core, tidak hanya menggantre di suatu inti saja.

Prosesor dengan 4-8 core CPU sekarang sudah jamak. Beberapa bahkan bisa berisi hingga  lebih dari 20 core. CPU dengan jumlah core yang lebih banyak bisa lebih kencang saat mengerjakan suatu tugas intensif seperti rendering video, walaupun clockspeed-nya lebih rendah.

Baca Juga :  Rekomendasi Handphone Samsung Harga 3 Jutaan Terbaru 2024

Selain jumlah core dan clockspeed, kecepatan prosesor di tentukan pula oleh beberapa hal lainnya. Seperti arsitekturnya, serta jumlah cache (L1, L2 serta L3), dan ketersediaan fitur seperti Hyperthreading.

Baca juga: Teknologi Untuk Meningkatkan Produktivitas Akademik

2. Media penyimpanan (Hard disk) harus rutin di-defrag

Penggunaan suatu sistem operasi Windows jadul pasti masih ingat mengenai kebiasaan men-defrag, di mana OS menyusun suatu file yang tersebar alias terfagmentasi di seantero hard disk saat penulisan pertama, agar lebih runut serta lebih cepat pengaksesannya.

Mitos ini bisa di bilang berangkat dari fakta, karena hard disk akan membaca dan menulis file di cakram magnetik dengan head yang bergerak terus menerus. Lokasi pada suatu file yang teratur pun akan menjadi penting agar head tak perlu banyak bergerak sehingga meningkat access time.

Pada komputer tipe modern, defrag secara manual menjadi kurang relevan karena sudah di lakukan secara otomatis oleh sistem operasi Windows-nya.

Baca juga: Komponen-komponen Rem Cakram

Apalagi untuk suatu media penyimpanann solid state drive (SSD) yang sekarang banyak di gunakan sebagai drive utama suatu komputer. Defrag sama sekali tidak di perlukan dan justru bisa saja mengurangi umur dari SSD karena terus menerus melakukan kegiatan menulis data.

SSD  modern menyimpan data di sel ,memori elektronik sehingga tak perlu komponen menakin yang memperlambat akses seperti yang ada di hard disk. Selain itu, kecepatan dari SSD sendiri jauh lebih cepat dari hard disk.

3. Antivirus bikin  komputer jadi lemot

Seperti halnya software lain yang berjalan secara terus menerus pada memori. Suatu antivirus pun juga menyita sumber daya PC. Pertanyaannya adalah seberapa besar resource yang di gunakan pada suatu antivirus ini?

Baca Juga :  Teknologi Untuk Meningkatkan Produktivitas Akademik

Ternya pada software antivirus hanya menggunakan sumber daya yang relatif kecil sehingga tidak lebih membebani suatu sistem. Terlebih lagi pada komputer yang bertipe modern. Biasanya memiliki prosesor yang powerful dan memiliki memori yang berkapasitas besar sehingga tak terhambat oleh antivirusnya.

Penurunan kinerja suatu komputer mungkin baru akan terasa jika antivirus melakukan scanning secara reguler. Namun, kendala itu pun biasanya akan di atasi oleh antivirus masa kini yang meninimalisasi load system. Serta antivirus ini akan aktif sendiri ketika di perlukan saja.

Justru, tidak menggunakan antivirus akan meningkatkan resiko dari infeksi malware yang bakal lebih berpengaruh terhadap kinerja dari suatu komputer.

4. Browser Chromium sangat menyita memori

Peramban-peramban berbasis Chromium seperti halnya Google Chrome serta Microsoft Edge terlihat “memakan” sejumlah besar memori utama atau Ram pada Windows bila di bandingkan browser lain seperti halnya Mozilla Firefox.

Alasannya yaitu karena peramban Chromium membuka proses baru untuk untuk setiap tab yang terbuka untuk memastikan penutupan salah satu tab tidak akan mempengaruhi tingkat ke stabilitas tab lainnya atau pada browser secara keseluruhan.

Baca Juga :  Cara Menemukan File Download Pada HP Android Dengan Mudah

Baca juga: 5 Teknologi yang Merevolusi Sepeda Motor

Apakah hal ini merupakan sebuah masalah besar? Bisa jadi, tapi tergantung juga pada konfigurasi sistem. Apabila suatu komputer memiliki RAM yang berkapasitas besar, tentu peramban Chromium tidak akan menghambat kenerjan suatu komputer.

Namun, apabila suatu komputer yang bersangkutan hanya memiliki RAM yang sedikit. Maka bisa jadi kebutuhan pada memori relatif besar ini bisa menghambat kenirjanya. Untuk mengurangi pemakaian memori oleh browser Chromium, Anda bisa menutup tab yang tidak terpakai.

5. Mematikan komputer tanpa “Shut Down” bisa merusaknya

Tanpa “Shut Down” di sini mematikan suatu PC dengan lansung memutuskan suatu aliran listriknya. Mematikan dengan cara ini misalnya seperti mencabut kabel atau mematikan power supply.

Apakah hal ini mampu merusak komputer? Jawabannya adalah “Ya” dan “Tidak”. Mematikan komputer tanpa proses shut down akan secara tiba-tiba akan meyetop semua proses software yang sedang berjalan.

Jadi hal tersebut sampai merusak struktur sistem operasi dan boot loader pada komputernya. Maka akibatnya yaitu suatu komputer tidak bisa booting dan OS kemungkinan harus melakukan penginstalasi ulang.

Untungnya, mematikan suatu komputer begitu saja tidak akan merusak komponen pada hardware. Tak ada risiko untuk CPU, GPU, serta RAM, maupun SSD. Meski demikian, suatu komputer sebaiknya sesekali tetap di matikan melalui proses shut down apabila sedang tidak di pakai untuk menghemat dayanya.